Wednesday, 21 March 2012

SANG MANARAH KSATRIA GEGER SUNTEN

SELAMAT DATANG
DI JUXUTRIEUT@BLOGSPOT.COM
                                                             

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
                                               
Keraton Galuh bergejolak dengan dua kali pertumpahan darah, tahun 716 M Prabu Bratasenawa putra Prabu Mandiminyak yang direbut secara paksa oleh saudara se-ibunya yaitu Purbasora yang menghendaki tahta Kerajaan Galuh.
Dan pada tahu 723 M, kembali terjadi perang saudara. Prabu Purbasora tewas di tangan Maharaja Sanjaya putra dari Prabu Bratasenawa sebagai aksi balas dendam. Maharaja Sanjaya adalah sebagai ahli waris tahta Kerajaan Bumi Mataram, Kerajaan Sunda dan Galuh.

Tahun 723 Masehi, Premana Dikusuma diangkat menjadi raja Galuh oleh Maharaja Sanjaya sebagai wakil dirinya, karena merupakan cucu dari Prabu Purbasora sebagai keluarga keraton Galuh. Sedangkan yang mewakili dirinya di Kerajaan Sunda dipercayakan kepada putranya yang bernama Barmawijaya. Premana Dikusuma (Ajar Sukaresi) seorang pertapa, ia berjodoh dengan Dewi Naganingrum dan berputra Sang Manarah. Setelah naik tahta Maharaja Sanjaya menjodohkan Premana Dikusuma dengan Dewi Pangrenyep putri Patih Anggada, yang diharapkan oleh Sanjaya, agar Premana Dikusuma setia kepadanya.
Prabu Premana Dikusuma, seorang yang alim dan gemar bertapa, pernikahan tersebut merupakan sebuah pukulan bagi dirinya. Akhirnya Premana Dikusuma pergi bertapa di hutan Gunung Padang sebelah Timur Citarum, urusan pemerintahan diserahkan pada Patihnya.

Dewi Pangrenyep yang masih muda belia merasa kecewa dengan sikap suaminya. Ia merasa asing berada di Keraton Galuh, keluarga keraton Galuh tidak menyenangi dirinya karena peristiwa kematian Prabu Purbasora.
Keselamatan dirinya hanya terjamin oleh Prabu Barmawijaya dan prajurit Sunda yang melindunginya.

Prabu Barmawijaya belum memiliki permaisuri, sebetulnya ia menghendaki Dewi Pangrenyep menjadi Permaisurinya, karena mereka berdua sama-sama dilahirkan dan dibesarkan di keraton Pakuan. Ia pun merasa kecewa Dewi Pangrenyep ditikahkan pada Premana Dikusuma oleh ayahnya.
Kepergian Premana Dikusuma untuk bertapa, dimanfaatkan oleh Barmawijaya dan Dewi Pangrenyep untuk saling bertemu dan akhirnya mereka memiliki putra yang diberi nama Sang Banga. Hal ini kembali membuat geger keraton Galuh setelah kejadian antara Mandiminyak dan Pohaci Rababu kakak iparnya (kakek buyutnya Barmawijaya). Dewi Pangrenyep semakin tidak disukai oleh keluarga keraton Galuh. Prabu Barmawijaya berniat menikahi Dewi Pangrenyep, namun Dewi Pangrenyep masih menjadi istri Premana Dikusuma.

Untuk menyelesaikan "ganjalannya", Prabu Barmawijaya menugaskan seorang prajurit kepercayaannya untuk membunuh Premana Dikusuma (Ajar Sukaresi) di pertapaannya. Sang prajurit pergi seorang diri dengan cara rahasia dan berhasil nunaikan perintah rajanya. Dengan lega prajurit keluar dari pertapaan. namun ia terkejut saat dihadang pasukan pengawal, ia dibinasakan oleh pengawal raja Barmawijaya.

Berita terbunuhnya Premana Dikusuma cepat tersebar di keraton Galuh, karena sengaja disebarkan. Dan dikatakan bahwa pembunuhnya telah ditangkap dan diadili oleh Prabu Barmawijaya, dengan demikian ia berjasa atas keraton Galuh. Karena jasanya itu, Barmawijaya berhasil memperistri Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep juga berkuasa atas tahta Sunda dan Galuh. Namun musibah tersebut membuat Sang Manarah sangat berduka, saat peristiwa itu berlangsung usia Sang Manarah 14 tahun.

Terbunuhnya Premana Dikusuma, tercium oleh Senapati tua Bimaraksa yang bermukim di Geger Sunten, yang dikenal sehari-hari sebagai Ki Balangantrang. Saat terjadi peristiwa Sanjaya - Bunisora, senapati Bimaraksa berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di Geger Sunten. Lokasi sekarang adalah Kampung Sodong, Desa Tambaksari, Kecamatan Ranca Kabupaten Garut.
Sebagai mantan senapati Galuh, yang juga sebagai cucu Sang Wretikandayun pendiri Galuh, Bimaraksa mudah mendapatkan pengikut dan pendukung, terutama tokoh-tokoh yang luput dari pembinasaan Sanjaya. Ia juga berhasil menghubungi Sang Manarah (cicitnya) secara rahasia.

Sang Manarah setelah mengetahui kejadian tersebut bertekad untuk membalas dendam atas kematian ayahnya. Gerakan Sang Manarah yang menyamar menjadi satri Ciung Wanara, oleh Ki Balangantrang diatur dan dijaga kerahasiannya. Dalam jangka 6 tahun gerakan partisan Geger Sunten telah terhimpun kuat, tanpa diketahui oleh Barmawijaya. Sebagai putera pendeta Ajar Sukaresi, Sang Manarah pandai menyembunyikan perasaan dihadapan ayah tirinya.

Ki Balangantrang mendapat sumbangan pasukan dari raja-raja daerah bawahan Kerajaan Saunggalah, terutama dari bekas daerah kekuasaan Tritunggal : Pandawa-Wulan-Tumanggal.
Taktik strategi yang dipilih oleh Ki Balangantrang untuk menyerang Ibukota Galuh, bertepatan dengan pesta sabung ayam sebagai tradisi tahunan kegemaran Prabu Barmawijaya.
Yang menyiapkan senjata untuk pasukan Geger Sunten adalah Ki Anjali seorang Pandai Omas di Ibukota, sehingga saata Pesta Sabung Ayam prajurit Geger Sunten berbaur dengan rakyat biasa tanpa senjata, mereka hanya membawa ayam.

Dalam suasana hiruk pikuk pesta sabung ayam, Sang Manarah beserta pasukannya menyergap dipanyawungan.  Semua Pembesar dan pasukan bayangkara yang sedang menonton disergap secara tiba- tiba. Hanya dalam waktu setengah hari, Sang Manarah dan pasukannya berhasil menguasai keraton Galuh. Prabu Barmawijaya dan Dewi Pangrenyep ditangkap dipenjara dalam kurungan jeruji besi. Sedangkan Sang Banga yang tidak tahu apa-apa segera dilepaskan, dibebaskan berbuat apapun seperti biasanya, hanya satu hal yang tidak boleh dilakukan tentang ayah ibu-nya.

Sang Banga yang sudah berusia 15 tahun, merasa bimbang. Apalah arti kebebasan bagi dirinya kalau ayah ibunya menderita dipenjara sebagi tawanan. Suatu malam Sang Banga nekad melepaskan kedua orang tuanya, dengan melumpuhkan para penjaga terlebih dahulu. Sang Banga berhasil melepaskan kedua orang tuanya untuk melarikan diri menuju Keraton Bumi Mataram.
Namun kejadiaan tersebut segera diketahui, akhirnya adik kakak saling berhadapan antara Sang Banga dengan Sang Manarah. Sang Manarah yang begitu menyayangi adik tirinya berusaha menangkap tanpa meluakinya. Setelah lama pertarungan kedua satria Sunda itu akhirnya Sang Banga dapat dikalahkan tanpa terluka. Sementara Tamperan Barmawijaya dan istrinya yang lari dikegelapan malam terus dikejar pengawal kerajaan serta dihujani anak panah.   Akhirnya Raja dan Ratu yang akrab sejak kecil tewas bersimbah darah jauh dari Pakuan tempat mereka dilahirkan.

Peristiwa kematian Tamperan Barmawijaya akhirnya sampai ke Bumi Mataram, alangkah murkanya Maharaja Sanjaya mendengar peristiwa tersebut. Dengan mengerahkan angkatan perang  yang besar Maharaja Sanjaya bergerak dari Medang Bumi Mataram menuju purasaba Galuh. Namun Sang Manarah telah memperhitungkan kemungkinan tersebut dan mengerahkan seluruh pasukan Galuh diperbatasan. Dua keturunan Wretikandayun sudah saling berhadapan, masing-masing mengerahkan angkatan perangnya. Akhirnya gotrayudha (perang saudara) yang sangat dasyat pecah kembali. Perang berlangsung beberapa hari namun belum menunjukkan ada yang kalah dan menang. Akhirnya Resiguru Demunawan dengan pengiringnya barisan pendeta turun dari Saung Galah menuju palagan (medan perang) Galuh. Dengan wibawanya yang besar sebagai tokoh tertua Galuh yang masih hidup, Resiguru Demunawan berhasih menghentikan pertempuran sehingga terjadi gencatan senjata.

Dalam usia 93 tahun Resiguru Demunawan kelahiran Kabuyutan Gunung Galunggung memimpin perundingan perjanjian antara Sanjaya dan Manarah di keraton Galuh. Hasil perjanjian tersebut : 
     1.     Kerajaan Sunda dengan  dirajai oleh Sang Banga alias Kamarasa dengan gelar Prabu kretabuana Yasawiguna Ajimulya, dengan batas Negara dari Sungai Citarum ke Barat.
      2. Kerajaan Galuh dirajai oleh Sang Manarah alias Surotama dengan gelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana.

Manarah menikahi Kancana Wangi, sedangkan Banga menikahi Dewi Kancana Sari, kedua putri tersebut adalah cicit Resiguru Demunawan putrinya Prabu Kretananggala (Raja Saunggalah) dan Patih Tambawesi. Dengan perjodohan itu, maka berbaurlah darah Sunda-Galuh dan Saung Galah.




No comments:

Post a Comment