Thursday, 15 March 2012

Tanjeur Na Juritan Jaya Dibuana

Terimakasih atas kunjungan anda


                             
prsasasti kawali

Ketika perang di palagan Bubat berlangsung,  pada hari selasa wage tanggal 4 September 1357 M,  usia Niskala  Wastu Kancana  baru 9 tahun. Oleh karena itu pemerintahan Kerajaan Sunda untuk sementara dipegang oleh adik Prabu Linggabuana  yang saat itu menjabat Mangkubumi. Mangkubumi Bunisora, dengan nama nobat Prabu Guru Pangadiparamarta Jayadewabrata.
Dalam pemerintahannya Sang Bunisora cenderung sebagai raja pendeta, yang diwarnai suasana religius.Sang Bunisora, dalam naskah Carita parahiyangan disebut sebagai Satmata. Menurut korpak 603, tingkat batin manusia dalam keagamaan adalah acara, adigama, gurugama,    tuhugama,    satmata,   suraloka dan   nirawerah.Satmata adalah tingkatan kelima dan tahap tertinggi bagi seseorang yang masih ingin mencampuri usuran duniawi Setelah mencapai tingkat keenam (suraloka), orang sudah sinis terhadap kehidupan umum.. Pada tingkatan (nirawerah) padamlah segala hasrat dan nafsu, seluruh hidupnya pasrah kepada Hyang Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa).
Dengan nilai-nilai keagamaan itulah, Sang Niskala Wastu Kancana, diasuh oleh Bunisora. Kemungkinan, Niskala Wastu Kancana dididik kenegaraan dan keagamaan oleh Bunisora disebuah Kabuyutan Jampang, karena Bunisora dijuluki juga sebagai Batara Guru di Jampang.
Ketika usia Niskala Wastu Kancana berusia 20 tahun ia memperistri gadis pilihannya bernama Ratna Sarkati yang berusia 19 tahun putri Resi Susuk Lampung dari Sumatra Selatan. Setelah satu tahun berumah tangga ia memperoleh putra yaitu Sang Haliwung, yang lahir pada tahun 1369 masehi. Kemudian pada tahun 1371 M, Niskala  Wastu Kancana memperistri Dewi Mayangsari yang berusia 17 tahun putri bungsu Sang Bunisora. Pada tahun yang sama Bunisora wafat, setelah memerintah Kerajaan Sunda selama 13 tahun 5 bulah 15 hari.
Niskala Wastu Kancana naik tahta menggantikan pamannya pada usia 23 tahun, dengan gelar Mahaprabu Niskala Wastu Kancana atau Praburesi Buanatunggal Dewata. Nilai pribadi Sang Mahaprabu terungkap pada tulisan prasasti yang ditemukan di Astana Gede Kawali, berhuruf dan bebahasa Sunda Kuno, yang bacaannya sebagai berikut:
Prasasti Kawali I

         nihan tapa kawali
         nu siya mulia tapa
         bhagya parebu raja wastu
         mangadeg di kuta kawali
         nu mahayu na kadatuan
         surawisesa nu marigi
          sakuliling dayeuh nu najur sagala
          desa aya ma nu pa(n) deuri kena
          gawe rahhayu pakeun heubeul
          jaya dina buana

Terjemahan :
Yang bertapa di Kawali ini adalah yang berbahagia Prabu Raja Wastu yang bertahta di kota Kawali, yang  memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parigi (pertahanan) sekeliling ibukota,  yang menyejahterakan (memajukan pertanian) seluruh negeri. Semoga ada (mereka) yang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia.
Prasasti Kawali II

              aya ma
              nu ngeusi
              bhagya kwali
              bari pakena
              kereta bener
              pakeun na(n)jeur
              na juritan

Terjemahan :
Semoga ada (mereka) yang kemudian mengisi (negeri) Kawali ini dengan kebahagiaan sambil membiasakan diri berbuat kesejahteraan sejati agar tetap unggul dalam perang.
Berbeda dengan prasasti lainnya yang pernah ditemukan di Jawa Barat, isi prasasti Kawali cenderung merupakan wangsit dari Mahaprabu Niskala Wastu Kancan, yang ditujukan kepada siapa pun yang membaca prasasti tersebut di kemudian hari.

prasasti astana gede
Melalui prasasti Kawali, Mahaprabu Niskala dengan tulus berbagi pengalaman, yang telah menemukan sumber hakiki  bagi kesentosaan negara. Sumber tersebut secara prinsip terbagi dua, antara lain :
1. Membiasakan diri berbuat kebajikan (pakena gawe rahayu) dan
2. Membiasakan diri berbuat kesejahteraan sejati (pakena kereta bener).


Secara hiperbolis tentang masa pemerintahan Mahaprabu Niska Wastu Kancana, penulis Carita Parahiyangan memberikan gambaran, jangankan manusia, apah (air), teja (cahaya), bayu (angin) akasa (langit), serta bu (eter) merasa betah berada di bawah pemerintahannya. Pada akhirnya, penulis Carita Parahiyangan menganjurkan. Sugan aya nu dek nurutan inya twah nu surup ka Nusalarang. (Barangkali ada yang hendak meniru perilaku yang mendiang ke Nusalarang).
Prof.Dr. Ayat Rohaedi bersikeras mengemukakan pendaptnya, bahwa Mahaprabu Niskala Wastu Kancana itulah yang lebih tepat sebagai tokoh Prabu Siliwangi. Karena Sang Mahaprabu merupakan silih-pengganti keterkenalan dan keharuman nama Prabu Wangi yang gugur di palagan Bubat. Hanya raja sekalliber Prabu Wangi yang layak dijuluki Prabu Silih Wangi atau Prabu Siliwangi.
Maprabu Niskala Wastu Kancana, heubeul jaya dina buana memerintah Kerajaan Sunda, selama 103 tahun 6 bulan 15 hari (1371 - 1475 Masehi). Ia wafat dalam usia kurang lebih 126 tahun. Ia masih sempat mendengar tentang Kerajaan Majapahit dilanda Perang Paregreg (1453-1456 M). Yaitu huru hara perebutan tahta diantara keturunan Prabu Hayam Wuruk. Di saat negara tetangga dilanda kerusuhan, ia sedang menikmati kedamaian dan kesejahteraan rakyatnya. Setelah wafat, Mahaprabu Niskala Wastu Kancan dipusarakan di Nusalarang. Sebagaimana  yang dianjurkan penulis Carita Parahiyangan, Sugan aya nu dek nurutan inya twah nu surup ka Nusalarang
"Pakeun heubeul jaya dina buana, pakeun nanjeur na juritan."

Sumber : Sejarah Jawa Barat

No comments:

Post a Comment