Friday, 3 August 2012

Pangeran Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana)


Reruntuhan Istana Pakungwati

Pangeran Cakrabuana atau Pangeran Walangsungsang atau Samadullah atau Haji Abdullah Iman, ia adalah putra tertua  Sri Baduga Maharaja Jayadewata atau Prabu Siliwangi dari Putri Subanglarang dari Kerajaan Pajajaran. Ia memiliki dua orang adik yang bernama Putri Larasantang dan Pangeran Rajasangara yang dikenal dengan nama Kiansantang. Karena ibunya beragama islam mereka betiga pun memeluk agama islam. Setelah Subanglarang wafat, ke tiga putranya tidak menetap di Pakuan Pajajaran namun meminta izin pada ayahandanya untuk kembali ke Kerajaan Singapura (Cirebon) untuk berkumpul dengan kakeknya.

Setelah beberapa lama di Kerajaan Singapura, Pangeran Walangsungsang meminta izin pada kakeknya untuk berguru ilmu. Ki Gedeng Tapa mengizinkan kepergian Pangeran Walangsungsang yang hendak mengembara mencari ilmu ke wilayah Timur. Sang Pangeran akhirnya tiba di Padepokan ki Danuwarsih, seorang pendeta agama Budha. Ki Danuwarsih adalah anak dari ki Danusetra seorang pendeta yang berasal dari Gunung Dihyang (Dieng), kemudian menjadi pendeta di Keraton Galuh ketika Ibukota Kerajaan Galuh masih di Karang Kamulyan, Ciamis.

Sulit dibayangkan, bagaimana keteguhan Pangerang Walangsungsang yang beragama islam berguru kepada seorang pendeta Budha. Mungkin saja ia hamya ingin mengetahui sebagai studi perbandingan. Tetapi  yang jelas, kemudian ia menikahi Indang Geulis, putrinya Ki Danuwarsih. Tanpa diduga oleh Pangeran Walangsungsang, adiknya yang bernama Larasantang menyusul dirinya untuk ikut mengembara. 

Tempat tinggal ki Danuwarsih menurut Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 4, hanya diterangkan di Parahiyangan bang Wetan, disana terdapat :
1.       1.     Makam keramat Embah Wali Tanduran
2.       2. Makam Pajajaran di bukit Sigabung dan
3.       3. Makam Pajajaran di Pacalan Kampung Sebelas

Menurut sesepuh adat ke tiga tempat keramat tersebut bukanlah makam namun Patilasan, ke tiga tempat keramat tersebut menurut mereka adalah Patilasan Pangeran Cakrabuana.

Ketika Pangeran Walangsunsang bersama Indang Geulis dan Larasantang kembali ke Cirebon, disana telah berdiri pesantren Islam yang bernama Pondok Quro yang berdiri di kaki bukit Amparan Jati. Pondok Quro adalah pesantren tertua ke dua di Jawa Barat setelah Pesantren Quro di Karawang yang didirikan oleh Syeh Hasanudin atau Syeh Quro. Pesantren Quro Amparan Jati didirikan oleh Syeh Datuk Kahfi atas restu dari Ki Gedeng Tapa.  Syeh Datuk Kahfi kemudian menikah dengan Hadijah, cucu Haji Purwa Galuh (Baharudin alias Bratalagawa atau adik sepupu dari Prabu Niskala Wastukancana). Karena Hadijah seorang janda kaya-raya, Syeh Datuk Kahfi bisa membangun pesantren yang lebih besar dan lebih baik. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Nyi Ageng Muara. Di pesantren inilah akhirnya Pangeran Cakrabuana, Indang Geulis dan Larasantang menjadi santri Syeh Datuk Kahfi. Oleh Syeh Datuk Kahfi, Pangeran Walangsungsang diberi nama Samadullah.

Kemudian ki Samadullah beserta istri dan adiknya menempati Cirebon Larang atau Cirebon Pesisir untuk siar Islam. Disana ternyata  sudah ada ki Danusela adiknya ki Danuwarsih. Ki Danusela sebagai sesepuh di kampung tersebut menerima kehadiran Pangeran Walangsungsang. Oleh ki Danusela, Pangeran Wanglangsungsang dijadikan Cakrabumi yang kemudian dijuluki sebagai Pangeran Cakrabuana. Selain itu Pangeran Cakrabuana dinikahkan dengan putrinya Ki Danusela yang bernama Ratna Riris atau Kancana Larang. Dan selanjutnya Pangeran Cakrabuana menjadi Kuwu di Cirebon Pesisir mengantikan kedudukan mertuanya.

Atas nasihat Syeh Datuk Kahfi, Pangeran Cakrabuana menunaikan ibadah Haji. Ia berangkat bersama Larasantang adiknya, karena Istrinya sedang hamil tua. Selama menunaikan ibadah haji, Ki Samadullah dan Larasantang tinggal di rumah adik Syeh Datuk Kahfi. Setelah menunaikan ibadah haji Ki Samadullah diberi nama baru oleh Syeh Abdul Yajid gurunya di Mekah, dengan nama Haji Abdullah Iman sedangkan Larasantang diberi nama Hajjah Sarifah Muda’im. Hajjah Sarifah Muda’im dipersunting oleh Syarif Abdullah seorang walikota Mesir.  Syarif Abdullah adalah seorang keturunan Bani Hasyim yang pernah berkuasa atas wilayah tanah Palestina tempat tinggal Bani Israil. Setelah menikah kemudian Hajjah Sarifah Muda’im oleh suaminya dibawa ke Mesir.

Dalam perjalanan pulang ke Jawa Barat, Haji Abdullah Iman singgah di Bagdhad (Irak) dan Cempa (Indo Cina). Di Cempa Haji Abdullah Iman berguru kepada Syeh Ibrahim Akbar, yang kemudian dijodohkan dengan putrinya, dan dibawanya pulang ke Cirebon.

Setibanya di Cirebon, Indang Geulis telah melahirkan seorang putri, kemudian diberi nama Nyai Pakungwati. Bermodalkan harta warisan dari kakeknya, Hajji Abdullah Iman mendirikan Kerajaan Cirebon, keratonnya diberinama Pakungwati, diambil dari nama putrinya. Berdirinya Kerajaan Cirebon Pesisir sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa Barat mendapat restu di Sri Baduga Maharaja Siliwangi sebagai ayahandanya. Sri Baduga memberi gelar kepada Haji Abdulah Iman dengan nama nobat Sri Manganan sebagai Raja daerah.















1 comment: